Pekalongan, KabarTerkiniNews.co.id – Khamidah (46), seorang tenaga kerja wanita (TKW) asal Kota Pekalongan, berharap bisa segera pulang ke Tanah Air. Namun, harapan itu terbentur persoalan biaya pemulangan yang disebut mencapai Rp65 juta,di tengah kondisi tubuh yang kian melemah akibat sakit di Dubai, Uni Emirat Arab,
Waktu pun terasa semakin sempit. Berdasarkan pesan suara yang diterima Sujari dari istrinya pada Minggu (11/10/2026), uang tersebut harus segera disiapkan sebelum 25 Oktober. Jika melewati batas waktu itu, menurut penuturan Khamidah, denda tambahan bisa kembali dikenakan.
Di kampung halaman, sang suami, Sujari (54), hanya bisa diliputi kecemasan. Tak memiliki pekerjaan dan harus mengasuh kedua anaknya, ia kini kebingungan mencari uang puluhan juta rupiah demi membawa istrinya kembali ke rumah.
Di tengah kondisi keluarga yang serba terbatas, Sujari kini berharap ada uluran tangan dari pemerintah maupun pihak lain agar istrinya bisa segera dipulangkan.
Berangkat ke Dubai demi Mengadu Nasib
Sujari merupakan warga Buaran Kradenan, Gang 9, RT 03/RW 05, Kecamatan Pekalongan Selatan, Kota Pekalongan. Ia menceritakan bahwa istrinya, Khamidah, berangkat ke Dubai pada Juli 2026 melalui jasa penyalur tenaga kerja.
Awalnya, Khamidah bekerja di rumah majikan pertamanya selama sekitar dua bulan. Namun, karena alasan tertentu, ia merasa tidak betah dan akhirnya dipindahkan oleh pihak penyalur ke majikan baru.
Sayangnya, harapan untuk melanjutkan pekerjaan di tempat baru tidak berjalan sesuai rencana. Belum lama bekerja di tempat majikan kedua, kondisi kesehatan Khamidah justru melemah. Penyakit yang pernah dideritanya kembali menjadi kendala hingga ia tidak mampu melanjutkan pekerjaannya.
Khamidah kemudian dikembalikan ke tempat penampungan milik pihak penyalur. Dari tempat itulah, ia menyampaikan keinginan untuk segera pulang ke Indonesia.
Suami Tak Bekerja, Uang Rp65 Juta Belum Terkumpul
Kabar mengenai kondisi istrinya membuat Sujari semakin terpukul. Di satu sisi, ia ingin segera membawa Khamidah pulang agar bisa mendapatkan penanganan dan berkumpul kembali dengan keluarga. Namun, di sisi lain, ia tidak memiliki cukup uang untuk memenuhi biaya pemulangan yang disebut mencapai Rp65 juta.
Kondisi ekonomi keluarga semakin sulit karena Sujari saat ini tidak bekerja. Ia juga harus mengurus kedua anaknya di rumah, sementara sang istri berada jauh di negeri orang.
Sejak menerima kabar tersebut, Sujari mengaku telah berusaha mencari pinjaman kepada tetangga dan kerabat. Berbagai upaya dilakukan agar uang yang dibutuhkan bisa segera terkumpul.
Namun, hingga kini, dana puluhan juta rupiah itu belum berhasil didapatkan. Bagi Sujari, persoalan ini bukan sekadar tentang biaya. Ia juga menghadapi kekhawatiran terhadap kondisi kesehatan istrinya yang semakin melemah, sementara waktu untuk mengupayakan pemulangan disebut semakin terbatas.
Tenggat 25 Oktober, Keluarga Berharap Ada Bantuan
Berdasarkan pesan suara yang diterima pada Minggu (11/10/2026), Khamidah menyampaikan bahwa biaya pemulangannya harus segera dipenuhi sebelum 25 Oktober. Apabila melewati tenggat tersebut, ia mengaku berisiko kembali dikenai denda.
Informasi mengenai besaran biaya, dasar pengenaan denda, serta pihak yang menetapkan kewajiban pembayaran tersebut masih perlu dikonfirmasi lebih lanjut.
Keluarga kini berharap pemerintah dapat turun tangan untuk membantu mencari jalan keluar, termasuk memeriksa kondisi Khamidah, memastikan kejelasan biaya pemulangan, serta menelusuri tanggung jawab pihak penyalur tenaga kerja yang memberangkatkannya.
Kasus ini juga menjadi pengingat pentingnya perlindungan bagi pekerja migran Indonesia, terutama ketika mereka mengalami masalah kesehatan atau menghadapi kendala untuk kembali ke Tanah Air.
Berharap Istri Segera Kembali ke Pelukan Keluarga
Di tengah keterbatasan ekonomi, Sujari berharap ada pihak yang bersedia membantu agar istrinya dapat segera kembali ke Pekalongan.
Ia ingin Khamidah pulang dalam keadaan selamat dan memperoleh perawatan yang dibutuhkan. Namun, tanpa bantuan dan kejelasan mengenai mekanisme pemulangan, harapan tersebut masih terbentur biaya yang jauh di luar kemampuannya.
Kini, keluarga hanya bisa berupaya mencari jalan keluar sebelum tenggat waktu yang disampaikan Khamidah tiba. Di saat kondisi kesehatannya melemah di negeri orang, Khamidah berharap bisa pulang. Sementara di Pekalongan, suaminya terus berjuang mencari biaya agar istrinya dapat kembali ke rumah.
Kermit





