Sedekah Gunung Merapi Digelar di Malam 1 Suro, Warga Lereng Merapi Larung Kepala Kerbau dan Rebut Gunungan

Boyolali, KabarTerkiniNews.co.id – Masyarakat lereng Gunung Merapi di Desa Lencoh, Kecamatan Selo, Boyolali, kembali menggelar tradisi Sedekah Gunung Merapi pada malam 1 Suro atau Tahun Baru Islam 1448 Hijriah. Tradisi turun-temurun tersebut menjadi wujud rasa syukur sekaligus permohonan keselamatan bagi warga yang bermukim di kawasan lereng Merapi.

Prosesi diawali dengan kirab kepala kerbau yang akan dilarung ke kawasan puncak Merapi. Arak-arakan juga diikuti gunungan nasi jagung, gunungan sayuran, serta berbagai sesaji yang dibawa menuju Pendopo Joglo Merapi, Desa Lencoh.

Bacaan Lainnya

Tradisi Sedekah Gunung Merapi rutin digelar setiap malam 1 Suro. Selain sebagai ungkapan syukur atas hasil pertanian yang melimpah, ritual adat ini juga menjadi doa bersama agar masyarakat terhindar dari berbagai bencana alam yang berpotensi terjadi akibat aktivitas Gunung Merapi.

Sebelum diberangkatkan menuju puncak, kepala kerbau dan sesaji terlebih dahulu didoakan oleh tokoh adat setempat.

Ketua Adat Desa Lencoh, Paiman Hadi Martono, mengatakan tradisi tersebut telah diwariskan secara turun-temurun oleh para leluhur dan terus dijaga hingga saat ini sebagai bagian dari pelestarian budaya masyarakat lereng Merapi.

“Sedekah Gunung Merapi dilaksanakan setiap malam 1 Suro. Tradisi ini merupakan warisan nenek moyang yang terus dilestarikan sebagai budaya masyarakat Desa Lencoh. Selain itu, kegiatan ini juga menjadi bentuk rasa syukur kepada Allah SWT atas berbagai nikmat yang diberikan kepada masyarakat,” ujarnya.

Menjelang tengah malam, kepala kerbau yang menjadi bagian utama prosesi ritual kemudian ditandu menuju kawasan kawah Gunung Merapi. Lokasi tujuan berada sekitar empat kilometer dari titik pemberangkatan.

Selain prosesi larung kepala kerbau, acara yang paling ditunggu masyarakat adalah perebutan gunungan. Ratusan warga, mulai dari anak muda hingga orang tua, berdesakan untuk mendapatkan nasi gunungan dan gunungan sayur yang disediakan panitia.

Nasi gunungan yang terbuat dari nasi jagung khas masyarakat lereng Merapi dipercaya membawa berkah. Karena itu, warga antusias berebut bagian dari gunungan untuk dibawa pulang.

Tradisi tersebut juga menarik perhatian pengunjung dari berbagai daerah. Salah satunya Dea, wisatawan asal Solo yang mengaku baru pertama kali mengikuti tradisi Sedekah Gunung Merapi.

“Menurut saya ini pengalaman yang sangat menarik. Sebagai generasi muda, kami jadi lebih mengenal budaya dan tradisi yang masih dijaga masyarakat Boyolali. Saya sangat terkesan karena ternyata masih banyak budaya lokal yang tetap lestari hingga sekarang,” ungkapnya.

Tidak hanya wisatawan domestik, tradisi Sedekah Gunung Merapi juga menarik perhatian wisatawan mancanegara. Dua wisatawan asal Australia dan Jerman bahkan turut serta mengarak gunungan bersama warga setempat.

Mereka mengaku senang dapat terlibat langsung dalam tradisi yang menurut mereka sangat unik dan tidak ditemukan di negara asalnya.

Dalam kesempatan tersebut, Wakil Bupati Boyolali Dwi Fajar Nirwana berharap tradisi yang bertepatan dengan peringatan Hari Jadi Kabupaten Boyolali ke-179 itu dapat terus dilestarikan oleh generasi mendatang.

Menurutnya, tradisi yang telah diuri-uri masyarakat lereng Merapi selama bertahun-tahun tersebut tidak hanya menjadi warisan budaya, tetapi juga mampu memperkuat kebersamaan dan identitas masyarakat Boyolali.

Masyarakat berharap melalui Sedekah Gunung Merapi, keselamatan dan kesejahteraan warga tetap terjaga serta hasil pertanian dapat tumbuh subur dan memberikan panen yang melimpah.

Karena status Gunung Merapi saat ini masih berada pada Level III atau Siaga, prosesi membawa kepala kerbau menuju kawasan puncak hanya dilakukan oleh 10 orang yang telah ditunjuk untuk menjaga keselamatan selama ritual berlangsung.

Taufik Irvani

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *