Kupang, KabarTerkiniNews.co.id — UNICEF bersama Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Kupang menggelar Workshop Hasil Penilaian Layanan Air, Sanitasi, Kebersihan (WASH), Tangguh Iklim dan Inklusif di Sekolah dan Madrasah di Hotel Timore Kupang, Jumat (14/8/2026).
Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya mendorong terciptanya lingkungan sekolah dan madrasah yang sehat, aman, inklusif, serta tangguh terhadap perubahan iklim, sekaligus mendukung pemenuhan hak anak di Kota Kupang.
Kepala Kantor Perwakilan UNICEF Provinsi NTT, Yudhistira Yewangoe, melalui CEWASH Officer UNICEF Kantor Perwakilan Provinsi NTT, Rostia La Ode Pado, mengatakan pemenuhan hak atas air, sanitasi, dan kebersihan merupakan bagian penting dari pemenuhan hak anak.
Menurutnya, UNICEF sebagai badan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang memiliki mandat dalam pemenuhan hak anak memberikan perhatian terhadap berbagai program yang memastikan hak anak terpenuhi sepanjang siklus kehidupannya.
“Dalam lingkungan sekolah SD, SMP maupun madrasah juga tidak kalah penting karena mulai usia 5 sampai 18 tahun kehidupan anak banyak berada di sekolah ataupun madrasah. Karena itu, layanan air, sanitasi dan kebersihan di sekolah dan madrasah bukan sekadar peningkatan kualitas fasilitas fisik, tetapi merupakan prasyarat mutlak untuk memenuhi hak, kesehatan, martabat dan perlindungan anak,” ujar Rostia, yang akrab disapa Tia.
Ia menegaskan, anak harus ditempatkan sebagai subjek dalam pembangunan, bukan sekadar sebagai objek penerima bantuan.
“Anak-anak kita tempatkan sebagai subjek, bukan objek bantuan. Bersama-sama dengan anak-anak kita meningkatkan lingkungan yang lebih sehat dan lebih bersih,” katanya.
Tia menjelaskan, kegiatan tersebut juga menjadi bagian dari dukungan UNICEF terhadap prioritas pembangunan Pemerintah Kota Kupang. Menurutnya, isu sanitasi dan air telah menjadi salah satu prioritas daerah yang tercermin dalam rencana strategis pemerintah daerah serta selaras dengan misi peningkatan kualitas sumber daya manusia dan pembangunan infrastruktur.
Dalam pendampingan program ini, terdapat tiga pilar utama yang menjadi perhatian.
Pertama, pilar inklusif dan responsif gender. Sekolah dan madrasah didorong memiliki fasilitas WASH yang mudah diakses oleh anak penyandang disabilitas serta mendukung penerapan manajemen kebersihan menstruasi bagi anak perempuan.
Kedua, pilar ketangguhan terhadap perubahan iklim. Sekolah dan madrasah diharapkan memiliki infrastruktur yang adaptif dan tetap dapat berfungsi secara optimal dalam berbagai kondisi cuaca.
Ketiga, dukungan terhadap Program Makanan Bergizi Gratis (MBG). Layanan WASH di sekolah diharapkan dapat memperkuat kebiasaan hidup bersih dan sehat, terutama melalui penerapan perilaku cuci tangan pakai sabun sebagai salah satu benteng utama menjaga higienitas anak.
UNICEF Perwakilan NTT berharap 30 sekolah dan madrasah yang terpilih dalam program ini dapat menjadi pemicu sekaligus contoh praktik baik yang nantinya direplikasi di sekolah dan madrasah lainnya.
“Bukan hanya di Kota Kupang, tetapi juga di semua sekolah dan madrasah di Provinsi NTT. Untuk itu, perlu kolaborasi multipihak. Pada akhirnya, sasaran kita adalah agar semua anak-anak kita di Kota Kupang dan Provinsi NTT terpenuhi haknya,” ujar Tia.
Ia juga mendorong adanya replikasi secara mandiri melalui komitmen bersama Pemerintah Kota Kupang. Dengan demikian, konsep sekolah yang cerdas iklim dan inklusif dapat diterapkan di sekolah dan madrasah lainnya.
“Mari kita perkuat sinergi. Tidak boleh ada satu pun anak yang tertinggal di Kota Kupang. Semoga hasil yang kita capai merupakan hasil yang komprehensif, yang bisa diimplementasikan secara terstruktur dan berkelanjutan untuk masa depan anak-anak,” katanya.
Sementara itu, Kepala Bidang Pendidikan Dasar dan Menengah Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Kupang, Okto Naitboho, mengatakan program yang dilakukan UNICEF sangat membantu pihak sekolah dalam membangun lingkungan pendidikan yang mampu melahirkan anak-anak yang sehat, tangguh dan peduli terhadap perubahan iklim.
” Kolaborasi antara pemerintah daerah dan UNICEF menjadi langkah penting dalam memperkuat kualitas layanan dasar di satuan pendidikan, terutama yang berkaitan dengan air, sanitasi, kebersihan, inklusivitas dan ketangguhan terhadap perubahan iklim,” jelas Okto.
Melalui kegiatan tersebut, hasil penilaian kondisi WASH di sekolah dan madrasah diharapkan tidak berhenti pada pemetaan, tetapi menjadi dasar untuk menyusun langkah perbaikan yang terarah dan berkelanjutan.
Program ini sekaligus diharapkan mampu melahirkan model sekolah dan madrasah yang tidak hanya memiliki fasilitas sanitasi yang layak, tetapi juga membangun budaya hidup bersih, sehat, inklusif, aman dan peduli terhadap lingkungan di kalangan peserta didik.
Rudy







