Grobogan, KabarTerkiniNews.co.id – Seleksi Penerimaan Murid Baru (SPMB) Tahun Ajaran 2026/2027 di Kabupaten Grobogan menunjukkan masih adanya persoalan pemerataan jumlah peserta didik. Sebanyak 74 sekolah dasar (SD) hanya menerima kurang dari 10 siswa baru, bahkan empat sekolah belum memperoleh satu pun murid.
Berdasarkan data Dinas Pendidikan (Disdik) Kabupaten Grobogan, dari total 804 SD yang ada, sebanyak 74 sekolah hanya mendapatkan kurang dari 10 peserta didik baru. Dari jumlah tersebut, 18 sekolah bahkan hanya menerima kurang dari lima siswa.
Kepala Bidang Pembinaan SD Disdik Grobogan, M Irfan, mengatakan minimnya jumlah murid baru dipengaruhi oleh berbagai faktor. Selain menurunnya jumlah anak usia sekolah, banyak orang tua kini memilih menyekolahkan anak ke sekolah swasta berbasis agama. Faktor geografis, lokasi sekolah yang berdekatan, hingga letak sekolah di daerah terpencil juga turut memengaruhi jumlah pendaftar.
“Faktornya beragam, mulai dari jumlah anak usia sekolah yang menurun, pilihan orang tua ke sekolah swasta berbasis agama, hingga kondisi geografis dan lokasi sekolah,” ujarnya.
Empat sekolah yang hingga saat ini belum memperoleh siswa baru yakni SDN 4 Dimoro dan SDN 3 Juworo. Namun, kedua sekolah tersebut memang tidak membuka penerimaan peserta didik baru karena akan menjalani proses regrouping.
Sementara itu, dua sekolah lainnya yang belum mendapatkan pendaftar adalah SDN 3 Prigi di Kecamatan Kedungjati dan SD Pesantren Unggulan Miftahus Saadah di Kecamatan Wirosari.
Selain itu, terdapat satu SD di Kecamatan Geyer yang hanya memperoleh dua siswa baru. Enam sekolah lainnya masing-masing baru menerima tiga siswa, tersebar di Kecamatan Godong, Wirosari, Ngaringan, Karangrayung, dan Kedungjati.
Empat sekolah lainnya masing-masing baru memperoleh empat siswa, berada di Kecamatan Geyer, Brati, Karangrayung, dan Pulokulon. Sementara SD Satap Tumbuh Kembang Godong hingga kini baru menerima lima siswa.
Meski jumlah peserta didik baru di sejumlah sekolah masih sangat minim, Disdik Grobogan memastikan belum akan mengambil langkah penutupan sekolah. Sekolah-sekolah tersebut tetap diberi kesempatan menerima pendaftar hingga dimulainya tahun ajaran baru melalui mekanisme pendaftaran secara langsung atau offline. “Untuk yang masih minim tersebut tetap membuka sampai masuk ajaran baru. Mereka offline,” kata M Irfan.
Di sisi lain, pelaksanaan SPMB jalur daring juga masih menyisakan dua sekolah yang belum memenuhi kuota setelah proses daftar ulang pada 3 Juli 2026. Kondisi itu terjadi karena sejumlah calon peserta didik tidak hadir saat daftar ulang.
Dua sekolah tersebut yakni SDN 2 Purwodadi yang masih kekurangan dua siswa dan SDN 9 Purwodadi yang masih membutuhkan empat siswa untuk memenuhi kuota.
Disdik berharap masih ada tambahan peserta didik melalui pendaftaran offline hingga awal tahun ajaran baru. Dalam jangka panjang, persoalan minimnya jumlah murid akan disikapi melalui penataan jaringan sekolah, pelaksanaan regrouping bagi sekolah yang dinilai sudah tidak efektif, serta pemerataan layanan pendidikan agar proses belajar mengajar tetap berjalan optimal.
Sholi Morgan








