Surakarta, KabarTerkiniNews.co.id – Menteri Kebudayaan RI Fadli Zon menargetkan revitalisasi 13 titik di kawasan Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat, Jawa Tengah, rampung pada akhir 2026. Kementerian Kebudayaan mengalokasikan anggaran sekitar Rp 150 miliar untuk pekerjaan tersebut.
“Ya, akhir tahun ini biasanya juga ada penambahan waktu biasanya,” kata Fadli saat ditemui wartawan di Keraton Surakarta, Rabu, 23 September 2026.
Fadli mengatakan revitalisasi kawasan Keraton Surakarta merupakan bagian dari arahan Presiden untuk melindungi, merawat, melestarikan, mengembangkan, dan memanfaatkan aset budaya. Keraton Kasunanan Surakarta sendiri telah ditetapkan sebagai cagar budaya nasional.
“Ini juga merupakan perintah dari Bapak Presiden untuk melakukan revitalisasi keraton, istana-istana, museum-museum, dan berbagai aset budaya lain,” ujarnya.
Sebanyak 13 titik masuk dalam program revitalisasi, yakni Pagelaran, Sitinggil, Museum Keraton, Kasentanan, Panti Bidono, Keraton Kilen, Keputren, Ndalem Ageng, Kawasan Kamandungan, Bangsal Pradonggo, Sasana Handrawina, Panggung Songgo Buwono, dan Sinorenggo.
Menurut Fadli, revitalisasi tersebut belum mencakup seluruh kompleks Keraton Kasunanan Surakarta. Namun, 13 titik itu mencakup sebagian besar kawasan yang menjadi prioritas pemerintah.
Revitalisasi besar di Keraton Kasunanan Surakarta, kata Fadli, terakhir dilakukan sekitar 40 tahun lalu, antara lain di kawasan Sitinggil dan Pagelaran. Salah satu bagian yang kini dibenahi adalah Museum Keraton, termasuk tata pamer untuk memperkuat fungsi edukasi dan narasi tentang keraton serta budaya Jawa.
Fadli mengatakan revitalisasi tidak hanya menyasar bangunan. Pemerintah juga memperhatikan nilai, tradisi, dan warisan budaya tak benda yang berkembang di lingkungan keraton.
“Kita berharap tentu revitalisasi ini bukan hanya berhenti di fisik, yang tangible, tapi juga yang intangible, termasuk nilai-nilai, tradisi, warisan-warisan budaya tak benda,” katanya.
Pembiayaan revitalisasi tidak sepenuhnya bergantung pada APBN. Fadli mengatakan pemerintah membuka kolaborasi dengan sektor swasta melalui skema public private partnership maupun dukungan korporasi.
Ia mencontohkan Gedung Sanggabuwana yang revitalisasinya mendapat dukungan pihak swasta. Sejumlah bagian lain di kawasan keraton juga memperoleh dukungan korporasi.
“Jadi kita juga kolaborasi nanti ya, swasta, pemerintah. Jadi agar semuanya tidak semuanya tergantung dari APBN,” ujarnya.
Setelah revitalisasi, pemerintah juga menyiapkan konsep pengelolaan Keraton Kasunanan Surakarta. Fadli mengatakan pemerintah pusat, Pemerintah Kota Surakarta, dan pihak keraton telah membicarakan pengelolaan dengan manajemen profesional agar keberlanjutan keraton dapat terjaga.
Mekanisme kelembagaan, termasuk kemungkinan pembentukan yayasan, masih akan dibahas. “Yang sekarang ini fokus kita adalah di revitalisasi dulu,” kata Fadli.
Fadli berharap Keraton Kasunanan Surakarta dapat menjadi salah satu destinasi penting di Nusantara. Pengembangannya tidak hanya untuk wisata budaya, tetapi juga wisata sejarah, religi, dan kuliner.
Wali Kota Surakarta Respati Ardi mendukung revitalisasi tersebut. Ia mengatakan pembenahan keraton penting untuk menjaga aset cagar budaya sekaligus mengembangkan potensi wisata dan ekonomi masyarakat.
“Terima kasih Pak Prabowo, terima kasih Kementerian Kebudayaan. Semoga menjadi potensi wisata di Solo, manfaat bagi masyarakat, ekonomi meningkat, pariwisata hebat,” kata Respati.
Dari Keraton Surakarta, KGPH Panembahan Agung Tedjowulan mengatakan pihak keraton bersyukur atas perhatian pemerintah terhadap Keraton Kasunanan Surakarta. Tedjowulan saat ini sebagai Pelaksana Pelindungan, Pengembangan, dan Pemanfaatan Kawasan Cagar Budaya Keraton Surakarta.
“Saya hanya bersyukur dan mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya atas perhatian pemerintah, kepedulian kepada Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat,” kata Tedjowulan.
Tedjowulan mengatakan salah satu bagian yang akan dimanfaatkannya adalah kantoran dalem. Ia akan menggunakan kantor tersebut untuk menjalankan tugas dan menyusun program kerja keraton, mulai jangka pendek, menengah, hingga panjang.
A Nur





