Bandung, KabarTerkiniNews.co.id — Nama PAS Band menempati tempat penting dalam sejarah perkembangan musik rock alternatif Indonesia. Lahir dari geliat skena musik Bandung, grup ini tidak hanya dikenal lewat perpaduan rock, punk, hip-hop/rap, dan warna alternatif, tetapi juga karena keberaniannya menempuh jalur independen ketika industri rekaman belum sepenuhnya memberi ruang bagi musik underground.
Memasuki era 1990-an, PAS Band menjadi salah satu kelompok yang ikut menguatkan gerakan musik independen di Tanah Air. Dari Bandung, semangat bermusik secara mandiri itu kemudian menyebar dan menginspirasi banyak musisi di berbagai daerah.
Pada masa awal berdirinya, PAS Band diperkuat Yukie (vokal), Bengbeng (gitar), Trisno (bass), dan Richard Mutter (drum). Richard bukan sekadar drummer awal PAS Band. Ia juga menjadi salah satu penggerak ekosistem musik underground Bandung.
Bersama sejumlah rekannya, Richard turut menggagas Studio Reverse yang kemudian berkembang menjadi salah satu simpul penting bagi komunitas musik independen di Kota Bandung.
Perjalanan PAS Band juga tidak dapat dipisahkan dari keberadaan Radio GMR “Rock Station”. Pada masanya, radio tersebut menjadi salah satu ruang penting bagi musik rock dan underground dengan memberikan kesempatan kepada kelompok-kelompok musik lokal untuk memperdengarkan karya mereka kepada publik.
Di balik dukungan tersebut terdapat sosok Samuel Marudut atau yang akrab disapa Udut, Music Director GMR. Ia memberikan perhatian khusus kepada PAS Band. Setelah menyaksikan penampilan mereka dalam sebuah acara GMR pada 1993, Udut kemudian membantu memperkenalkan musik PAS Band kepada sejumlah perusahaan rekaman.
Namun, ketika upaya tersebut belum membuahkan hasil, PAS Band memilih jalan lain: berjalan dengan kaki sendiri.
Semangat Do It Yourself (DIY) kemudian melahirkan Four Through The S.A.P., mini album yang direkam dan diedarkan secara independen pada 1993. Langkah tersebut menjadi salah satu tonggak penting dalam perjalanan musik independen Indonesia.
GMR kala itu bukan sekadar radio yang memutar lagu PAS Band. Lebih dari itu, GMR menjadi bagian dari ekosistem yang mempertemukan musisi, komunitas, media, ruang kreatif, dan pendengar. Dari ekosistem semacam inilah keberanian untuk berkarya tanpa harus menunggu pintu industri rekaman besar semakin tumbuh.
Dari Richard Mutter ke Sandy Andarusman
Dalam perjalanan PAS Band, Richard Mutter memiliki tempat tersendiri. Sebagai salah satu penggerak awal, ia turut membentuk karakter band sekaligus menjadi bagian dari geliat musik independen Bandung.
Setelah Richard tidak lagi menjadi drummer PAS Band, posisi tersebut kemudian diisi Sandy Andarusman. Kehadiran Sandy memberikan warna baru bagi tubuh PAS Band. Permainan drumnya yang kuat dan enerjik berpadu dengan karakter rock yang menjadi identitas grup.
Formasi yang kemudian begitu lekat dalam ingatan penggemar terdiri dari Trisno pada bass, Sandy Andarusman pada drum, Yukie sebagai vokalis, dan Bengbeng pada gitar.
Formasi tersebut menjadi salah satu kekuatan penting yang membawa PAS Band semakin dikenal dan memperluas pengaruh musik alternatif Bandung ke tingkat nasional.
Trisno, Sang Penjaga Dentuman Bass, Telah Berpulang
Kabar duka kemudian datang dari keluarga besar PAS Band. Bambang Sutrisno atau yang akrab disapa Trisno, bassist PAS Band, meninggal dunia pada Sabtu, 1 Agustus 2026, pukul 14.30 WIB.
Musisi berusia 55 tahun tersebut mengembuskan napas terakhir setelah sempat menjalani perawatan intensif di Rumah Sakit Hermina, Bandung.
Trisno diketahui telah cukup lama menghadapi masalah kesehatan, termasuk gangguan pada ginjal. Kondisinya kemudian diperberat oleh komplikasi berupa penyumbatan pembuluh darah di otak hingga harus menjalani tindakan operasi.
Kepergian Trisno menjadi kehilangan besar bagi PAS Band dan para penggemarnya. Ia bukan hanya seorang bassist dalam sebuah grup musik, melainkan bagian dari perjalanan panjang sebuah generasi yang ikut membentuk wajah musik alternatif Indonesia.
Bersama PAS Band, Trisno tumbuh dari skena musik Bandung yang pada akhir 1980-an hingga 1990-an dikenal penuh energi, keberanian, dan semangat bereksperimen. Pada masa itu, radio, komunitas, ruang latihan, panggung-panggung kecil, dan media menjadi ruang penting bagi tumbuhnya musik independen.
Dari ruang-ruang tersebut, musisi muda mendapatkan kesempatan untuk didengar, dikenal, dan membangun jalan mereka sendiri.
Kini, salah seorang yang ikut mengukir sejarah itu telah berpulang.
Kepergian Trisno bukan hanya kehilangan bagi PAS Band, tetapi juga menjadi kehilangan bagi sejarah musik Bandung. Ia merupakan bagian dari sebuah zaman ketika musik alternatif mulai menemukan identitas, keberanian, dan panggungnya sendiri.
Jejak itu tidak akan hilang. Ia akan terus hidup melalui lagu-lagu, rekaman, panggung, serta ingatan orang-orang yang pernah tumbuh bersama musik PAS Band.
Selamat jalan, Trisno.
Dentuman bassmu boleh berhenti, tetapi jejak musikmu akan terus berdentum dalam sejarah PAS Band dan perjalanan panjang musik alternatif Indonesia.
Nurul Abadi







