Siswa SMPN 1 Turi Ciptakan Detektor MBG, Lima Detik Bisa Deteksi Makanan Basi

SLEMAN, KABAR TERKINI NEWS – Inovasi menarik lahir dari dua siswa SMP Negeri 1 Turi, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Mereka menciptakan alat yang diberi nama Detektor MBG, untuk membantu memeriksa kondisi makanan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Dua siswa tersebut adalah Abyan Syahlefi dan Pradipta Widhi Nugroho, siswa kelas IX B yang tergabung dalam ekstrakurikuler Karya Ilmiah Remaja (KIR).

Menariknya, alat tersebut diklaim mampu memberikan hasil pemeriksaan dalam waktu sekitar lima detik.

Ide pembuatan alat bermula dari keresahan kedua siswa terhadap banyaknya pemberitaan mengenai kasus keracunan makanan yang dikaitkan dengan program MBG di sejumlah daerah.

Dari keresahan tersebut, Abyan dan Pradipta kemudian berdiskusi dengan guru pembimbing KIR dan mulai melakukan riset untuk membuat alat yang dapat membantu mendeteksi kondisi makanan sebelum dikonsumsi.

Memanfaatkan Sensor untuk Membaca Kondisi Makanan

Dalam pengembangannya, Detektor MBG menggunakan sejumlah sensor untuk membaca karakteristik makanan, termasuk uap atau aroma yang muncul dari makanan.

Sejumlah komponen yang digunakan antara lain sensor MQ-3 dan MQ-135, mikrokontroler ESP32, serta perangkat pendukung pengaturan suhu. Sistem tersebut kemudian diprogram agar hasil pembacaan dapat ditampilkan melalui perangkat elektronik.

Cara penggunaannya cukup sederhana. Sampel makanan dimasukkan ke dalam wadah yang telah dilengkapi sensor, kemudian wadah ditutup.

Sensor selanjutnya membaca kondisi di dalam wadah. Hasil pemeriksaan dapat ditampilkan melalui layar pada alat dan juga dipantau menggunakan telepon seluler yang terhubung melalui jaringan Wi-Fi.

Jika makanan dinilai aman, sistem akan menampilkan indikator “aman”. Sebaliknya, ketika sistem mendeteksi kondisi makanan yang tidak sesuai, akan muncul indikator bahwa makanan tersebut terdeteksi basi.

Dikembangkan Selama Berbulan-bulan

Abyan dan Pradipta tidak langsung menghasilkan alat tersebut dalam waktu singkat. Proses pengembangan dilakukan melalui riset, perakitan komponen, pemrograman, hingga beberapa kali uji coba.

Salah satu tantangan terbesar justru berada pada proses pemrograman agar sensor dapat bekerja dan terhubung dengan perangkat telepon seluler.

Pengembangan alat tersebut disebut memakan waktu sekitar lima bulan, dengan biaya pembuatan sekitar Rp500 ribu.

Guru pembimbing KIR SMP Negeri 1 Turi, Anik Marwati, mengatakan alat tersebut juga telah beberapa kali digunakan untuk melakukan pemeriksaan terhadap menu MBG yang datang ke sekolah.

Pengujian dilakukan terhadap berbagai jenis makanan secara berulang untuk melihat konsistensi hasil pembacaan alat.

Lolos Tahap Pertama OPSI Nasional

Inovasi dua siswa tersebut kini tidak hanya digunakan di lingkungan sekolah. Detektor MBG telah diajukan dalam Olimpiade Penelitian Siswa Indonesia (OPSI) tingkat nasional dan berhasil melewati tahap pertama.

Pada tahap berikutnya, mereka akan mempresentasikan hasil penelitian dan pengembangan alat tersebut.

Inovasi ini juga mendapat perhatian dari berbagai pihak. Komisi D DPRD Sleman bahkan mendorong agar teknologi tersebut terus disempurnakan dan berpotensi dikembangkan untuk digunakan lebih luas di sekolah-sekolah.

Meski demikian, Detektor MBG saat ini masih merupakan prototipe hasil penelitian siswa dan masih membutuhkan pengembangan serta pengujian lebih lanjut sebelum dapat digunakan sebagai standar resmi untuk menentukan keamanan pangan.

Dengan biaya pengembangan yang relatif terjangkau, karya Abyan dan Pradipta menunjukkan bahwa persoalan keamanan makanan MBG dapat menjadi pemicu lahirnya inovasi teknologi dari lingkungan sekolah.

Bagi keduanya, Detektor MBG bukan sekadar proyek penelitian, tetapi upaya sederhana untuk memberikan lapisan pemeriksaan tambahan sebelum makanan dikonsumsi para siswa.

Andri Tio

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *