Bukan Sekadar Jalan Tengah Malam, Ribuan Orang Rela Diam Berjam-jam Demi “Menyapa” Diri Sendiri

Yogyakarta, KabarTerkiniNews.co.id – Di saat sebagian orang menghabiskan malam dengan hiburan atau beristirahat, ribuan warga justru memilih berjalan kaki mengelilingi benteng Kraton Yogyakarta tanpa banyak bicara. Bukan karena lomba, bukan pula aksi unjuk rasa, melainkan mengikuti Lampah Budaya Mubeng Beteng, tradisi menyambut Tahun Baru Jawa 1 Sura Be 1960 yang hingga kini tetap hidup dan justru semakin diminati.

Fenomena ini menarik karena di tengah era media sosial yang serba ramai dan penuh distraksi, ribuan orang justru rela “mematikan keramaian” untuk menikmati keheningan. Langkah demi langkah menjadi ruang untuk bercermin, merenung, sekaligus menyusun harapan baru.

Bacaan Lainnya

Kegiatan yang digagas para abdi dalem bersama masyarakat itu bukan merupakan Hajad Dalem resmi Kraton, melainkan gerakan kolektif sebagai bentuk dukungan terhadap Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat sebagai pusat pelestarian budaya Jawa.

Ketua Paguyuban Abdi Dalem Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat, KRT Kusumanegara, mengatakan Lampah Budaya Mubeng Beteng lahir dari semangat masyarakat untuk menjaga budaya sekaligus memperkuat kebersamaan.

“Agenda ini memang bukan Hajad Dalem milik Keraton Jogja, tetapi inisiatif dari abdi dalem dan masyarakat dalam rangka nyengkuyung keraton sebagai pusat kebudayaan. Secara sosial dan kolektif, kami bersama-sama menjalankan Lampah Budaya Mubeng Beteng ini untuk menyatukan rasa dan melakukan refleksi bersama demi menyambut tahun baru yang lebih baik,” ujarnya.

Rangkaian kegiatan dimulai pukul 21.00 WIB di Kagungan Dalem Bangsal Pancaniti Kraton Yogyakarta dengan pembacaan macapat sebagai doa dan pengingat nilai-nilai kehidupan. Menjelang tengah malam, ribuan peserta kemudian diberangkatkan mengelilingi benteng Kraton dalam suasana hening dan penuh kekhusyukan.

KRT Kusumanegara mengingatkan seluruh peserta untuk menjaga ketenangan selama prosesi berlangsung karena keheningan merupakan bagian penting dari makna spiritual tradisi tersebut.

Di tengah perkembangan zaman, Mubeng Beteng justru menemukan makna baru. Bagi sebagian generasi muda, tradisi ini bukan sekadar ritual warisan leluhur, melainkan bentuk “detoks” dari hiruk-pikuk kehidupan modern.
Hal itu diungkapkan Amalia Nurul yang menilai Topo Bisu Mubeng Beteng masih sangat relevan bagi generasi sekarang.

“Kalau sekarang banyak yang mengenal healing atau meditasi, Topo Bisu Mubeng Beteng ini seperti meditasi berjalan, merenungi diri sambil melangkah. Bisa menjadi cara untuk melepas berbagai pikiran yang mengganggu,” katanya.
Pendapat serupa disampaikan Viki Fendi. Menurutnya, mengikuti Mubeng Beteng menjadi pengalaman yang wajib dirasakan setidaknya sekali seumur hidup oleh warga Yogyakarta.

Sementara itu, Pelaksana Tugas Kepala Bidang Pemeliharaan dan Pengembangan Atlas Dinas Kebudayaan DIY, Rully Andriadi, mengingatkan bahwa Lampah Budaya Mubeng Beteng telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda sejak 2015 sehingga pelestariannya menjadi tanggung jawab bersama.

Di tengah dunia yang semakin bising, Lampah Budaya Mubeng Beteng justru mengajarkan satu hal sederhana: terkadang perjalanan paling penting bukanlah menuju suatu tempat, melainkan perjalanan untuk kembali mengenal diri sendiri.

Tradisi inilah yang membuat ribuan orang tetap datang setiap malam 1 Sura, membuktikan bahwa diam pun bisa memiliki makna yang sangat dalam.

Dhani

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *