BOYOLALI, KabarTerkiniNews.co.id— Menjelang Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, Sekolah Pembentukan Perwira (Setukpa) TNI Angkatan Udara (AU) menggelar pagelaran wayang kulit semalam suntuk dengan lakon Gatotkaca.
Pagelaran yang melibatkan jajaran Setukpa TNI AU bersama siswa Sekolah Lanjutan Perwira (Selapa) AU Angkatan ke-1 tersebut digelar sebagai bagian dari pembinaan tradisi sekaligus upaya melestarikan budaya dan kearifan lokal.
Selain menjadi hiburan bagi masyarakat, kegiatan ini juga dimaknai sebagai sarana menanamkan nilai kepemimpinan, patriotisme, loyalitas, keberanian, serta semangat pengabdian kepada bangsa dan negara.
Komandan Setukpa Kodiklatau TNI AU Kolonel Penerbang (Pnb) Urip Widodo mengatakan, pagelaran wayang kulit tersebut merupakan bentuk kecintaan dan penghormatan kepada bangsa dan negara melalui pelestarian budaya.
“Dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-81, malam ini kami menyelenggarakan pentas budaya kearifan lokal sebagai bentuk cinta kasih dan rasa hormat kepada negara dan bangsa. HUT kemerdekaan harus kita rayakan dengan meriah,” ujarnya.
Urip mengatakan, kegiatan serupa bukan kali pertama digelar Setukpa TNI AU. Pagelaran budaya tersebut telah dilaksanakan sebanyak tiga kali dan diharapkan mampu mempererat hubungan antara TNI dan masyarakat.
“Alhamdulillah, ini sudah yang ketiga kalinya kita melaksanakan kegiatan seperti ini. Harapannya, kita dapat menjalin silaturahmi dan kedekatan dengan masyarakat,” katanya.
Menurut Urip, keberadaan TNI tidak dapat dipisahkan dari masyarakat. Karena itu, kedekatan dengan rakyat perlu diwujudkan melalui berbagai kegiatan yang melibatkan masyarakat secara langsung.
“TNI itu kuat bersama rakyat. Malam hari ini kita melaksanakan pesta rakyat. Ada juga kuliner untuk warga masyarakat yang hadir, sehingga mudah-mudahan kegiatan malam ini bisa menghibur masyarakat,” ujarnya.
Ia menambahkan, tugas TNI tidak hanya berkaitan dengan pertahanan negara, tetapi juga bagaimana hadir di tengah masyarakat melalui pendekatan yang adaptif dan humanis.
“Kerja TNI itu bukan hanya sekadar sebagai alat pertahanan negara. Kita lahir dari rakyat dan kembali untuk rakyat. Kita wujudkan bahwa TNI itu adaptif, modern, profesional dan humanis,” tuturnya.
Pagelaran wayang kulit, lanjut Urip, menjadi salah satu bentuk upaya TNI AU beradaptasi sekaligus membangun kedekatan dengan masyarakat di wilayah Solo Raya, termasuk Boyolali dan sekitarnya.
“Ini satu bentuk bahwa tentara itu tidak selalu identik dengan hal-hal yang kaku. Kita juga fleksibel dan selalu berupaya memberikan yang terbaik untuk masyarakat,” katanya.
Urip yang juga merupakan dalang wayang kulit menilai, kesenian tradisional seperti wayang perlu terus dikenalkan dan dilestarikan agar tidak tergerus perkembangan zaman.
“Jangan sampai budaya kearifan lokal ini hilang, karena ini merupakan budaya bangsa yang sudah diakui oleh UNESCO,” ujarnya.
Lakon Gatotkaca dan Semangat Kepahlawanan
Pemilihan lakon Gatotkaca dalam pagelaran tersebut bukan tanpa alasan. Menurut Urip, tokoh Gatotkaca memiliki karakter kesatria yang erat dengan nilai keberanian, kekuatan, loyalitas, dan semangat pengabdian.
“Lakon ini ada kaitnya semangat juang dan kepahlawanan,” jelasnya.
Ia mengatakan, semangat tersebut relevan dengan momentum peringatan HUT Kemerdekaan RI yang tidak terlepas dari perjuangan para pendiri bangsa, termasuk Presiden pertama RI Soekarno.
“Kalau kita merayakan ulang tahun kemerdekaan Republik Indonesia pasti identik dengan Bapak Presiden Soekarno. Kita tahu bagaimana hasil perjuangan beliau,” katanya.
Menurutnya, karakter Gatotkaca diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi para siswa Selapa AU Angkatan ke-1 yang tengah dipersiapkan menjadi perwira.
“Gatotkaca merupakan salah satu tokoh wayang yang menggambarkan sosok kesatria. Kami berharap semangat tersebut juga menjadi inspirasi bagi para siswa yang sedang dipersiapkan menjadi perwira TNI AU,” ujarnya.
Para siswa Selapa AU Angkatan ke-1 tersebut sebelumnya berasal dari kalangan bintara dan kini menjalani pendidikan untuk menjadi perwira. Mereka sebelumnya mengikuti pendidikan dan pembentukan di kawasan Magelang sebelum melanjutkan pendidikan sebagai calon perwira TNI AU.
Urip berharap para siswa tersebut mampu menjadi perwira yang profesional sekaligus memiliki semangat pengabdian yang kuat kepada bangsa dan negara.
“Mereka ini baru lahir menjadi tentara sebagai seorang perwira, sebagai kesatria muda. Harapannya, mereka nantinya mampu menjadi perwira TNI AU yang profesional dan memberikan pengabdian terbaik kepada bangsa dan negara,” pungkasnya.
Dalam pagelaran tersebut, Ki Dalang Urip Widodo berkolaborasi dengan Ki Dalang Purbo Asmoro, yang juga merupakan dosen Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta.
Sejumlah pejabat turut hadir dalam kegiatan tersebut, di antaranya Wali Kota Solo, Bupati Boyolali, jajaran pejabat TNI AU, serta Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda).
Ahza Irvani







