Kupang, KabarTerkiniNews.co.id – Pemerintah Kelurahan Batuplat, Kecamatan Alak, Kota Kupang, Provinsi Nusa Tenggara Timur, terus mendorong penerapan lubang biopori sebagai salah satu langkah nyata dalam menjaga kelestarian lingkungan sekaligus mengurangi dampak genangan air saat musim hujan.
Pelaksana Tugas (Plt.) Lurah Batuplat, Ebet Nenobais, mengatakan bahwa keberadaan lubang biopori memberikan banyak manfaat bagi lingkungan. Selain membantu meningkatkan daya resap air ke dalam tanah, lubang biopori juga berperan dalam mengurangi genangan, menjaga ketersediaan air tanah, serta mengolah sampah organik menjadi kompos yang bermanfaat.
Menurut Ebet Nenobais, pembuatan lubang biopori merupakan upaya sederhana yang dapat dilakukan oleh masyarakat, namun memiliki dampak besar bagi kelestarian lingkungan. Oleh karena itu, ia mengajak seluruh warga Kelurahan Batuplat untuk berpartisipasi membuat dan merawat lubang biopori di lingkungan masing-masing.
“Lubang biopori sangat bermanfaat bagi lingkungan. Selain membantu penyerapan air hujan, biopori juga menjadi salah satu solusi pengelolaan sampah organik sekaligus menjaga kebersihan dan kelestarian lingkungan,” ujar Ebet Nenobais, Selasa (14/7/2026).
Pemerintah Kelurahan Batuplat berharap kesadaran masyarakat terhadap pentingnya lubang biopori terus meningkat. Dengan dukungan dan partisipasi seluruh warga, upaya pelestarian lingkungan dapat berjalan secara berkelanjutan, sehingga tercipta lingkungan yang lebih hijau, sehat, dan nyaman untuk dihuni.
Adapun Fungsi utama lubang biopori adalah meningkatkan daya serap air tanah untuk mencegah genangan dan mengolah sampah organik secara alami. Secara ekologis, biopori menjadi rumah bagi cacing dan mikroorganisme yang mengubah sisa makanan atau dedaunan menjadi pupuk kompos penyubur tanah.
Lubang biopori juga mencegah banjir dan erosi karena biopori mempercepat peresapan air hujan ke dalam tanah, sehingga sangat efektif mengurangi risiko genangan air dan banjir di area pemukiman yang pada, lubang ini juga menampung sampah organik rumah tangga (sisa sayuran, buah, daun kering), mencegah penumpukan di tempat pembuangan akhir (TPA), dan menekan gas metana yang dihasilkan oleh pembusukan sampah terbuka.
Tak hanya itu sampah organik yang terurai di dalam biopori akan menjadi pupuk kompos yang kaya unsur hara. Proses penguraian ini juga dibantu oleh fauna tanah yang menciptakan pori-pori alami, dan terakhir lubang biopori menjaga cadangan air tanah, dimana air hujan yang diserap oleh biopori membantu menjaga ketersediaan cadangan air tanah (akuifer), sehingga mencegah kekeringan saat musim kemarau.
Rudy








