Preview : Inggris Menang Nama, Kroasia Menang Bukti

Sumber Foto : Bolaskor.com

 

Bacaan Lainnya

Jakarta, KabarTetkiniNews.co.id – Inggris versus Kroasia, dini hari nanti, termasuk dalam kategori pertandingan yang mempertemukan dua cara pandang tentang bagaimana sebuah tim seharusnya bermain.

Di atas kertas, Inggris lebih meyakinkan. Pasar bola tahu nilai setiap pemainnya. Nama-nama seperti Harry Kane, Jude Bellingham, Phil Foden, Bukayo Saka hingga Declan Rice dianggap sebagai skuad yang pantas sebagai salah satu kandidat kuat juara dunia.

Kalau sepak bola dimainkan di media doang, mungkin Inggris dari dulu sudah juara mulu sebelum event apapun dimulai. “Media Darling dia, mah,” kata kawan wartawan senior yang sering meliput bola ke Eropa.

Masalahnya, pertandingan dimainkan di lapangan. Bukan di media yang sekarang platform-nya banyak.

Di Pildun kali ini, siapapun tahu, Inggris datang dengan segala kemewahan yang dimilikinya. Liga terbaik dunia. Infrastruktur terbaik. Kompetisi paling mahal. Publikasi terbesar. Pokoknya, Inggris punya nama gede banget!

Setiap turnamen besar di negaranya, selalu diulang kata-kata “football is coming home”. Walau juara Pildun baru sekali di tahun 1966.

Sementara Kroasia, datang dengan dingin. Sedingin negaranya yang berpenduduk sekitar empat juta jiwa. Tidak memiliki kemewahan liga lokal. Mesin promosi medianya pun enggak perlu buzzer-buzzeran. Cukup, pemainnya banyak tersebar di banyak liga ngetop Eropa.

Dalam 28 tahun terakhir, Kroasia menjelma menjadi salah satu negara paling konsisten di turnamen besar. Peringkat 3 Piala Dunia 1998, finalis Piala Dunia 2018 dan peringkat ketiga Piala Dunia 2022. Prestasi yang bahkan belum mampu dicapai Inggris dalam periode yang sama. Itulah bukti Kroasia gacor.

Walau begitu, yang menarik, rata-rata publik tak pernah benar-benar menganggap Kroasia spektakuler. Stigma sebagai “Kuda Hitam” susah copot menyertai prestasinya. Padahal Legenda hidupnya Davor Suker, secara tak langsung jika diartikan secara bebas, pernah berucap, “Eh, negara gue bukan lagi kuda hitam, kalih…! Tiga kali naik podium piala dunia adalah buktinya”.

Begitulah Kroasia, ketika pertandingan selesai, mereka sering menjadi pihak yang tersenyum. Modric dan kawan-kawan demen banget bikin banyak orang salah menebak.

Karena itu pertandingan nanti terasa menarik. Inggris adalah tim yang ingin bermain cepat. Menekan tinggi. Menguasai bola. Menyerang dengan intensitas besar. Mereka ingin lawan mengikuti ritme mereka.

Kroasia justru sebaliknya. Mereka tidak suka terburu-buru. Mereka lebih nyaman mengendalikan tempo pertandingan. Bola diputar. Ruang dicari. Kesabaran dijadikan senjata.

Jika Inggris ingin mengubah pertandingan menjadi lomba lari 100 meter, Kroasia ingin menjadikannya marathon jarak pendek saja.

Di sinilah pertarungan sesungguhnya akan terjadi. Jude Bellingham dan Luka Modric akan menjadi fokus perhatian.

Jude adalah simbol masa depan sepak bola Eropa. Modric adalah “Sang Patokan” pemain sepak bola yang mumpuni.

Bellingham memiliki tenaga, agresivitas, dan keberanian. Modric memiliki ketenangan, kecerdasan, dan bijak membaca permainan.

Pemenang pertandinagn bisa saja ditentukan oleh siapa yang lebih mampu menguasai area tengah lapangan.

Jika Bellingham dan Rice berhasil menekan Modric, Kroasia akan kesulitan mengembangkan permainan.

Sebaliknya, jika Modric mendapatkan ruang untuk berpikir, Inggris bisa kecapean berlari mengejar bola.

Satu catatan menarik dari sejarah pertemuan keduanya. Kroasia pernah menghancurkan mimpi Inggris menuju final Piala Dunia 2018. Kekalahan 1-2 di semifinal itu masih menjadi salah satu luka terbesar generasi Harry Kane.

Saat ini, penulis melihat Inggris sedikit lebih unggul. Setelah baca, nonton, ngintip dan ngulik ulasan media global pastinya.

Dari sisi kedalaman skuad, kecepatan permainan, hingga kualitas individu, Inggris memang berada satu tingkat di atas Kroasia saat ini.

Apakah Inggris akan menang? Tipis menangnya.

Apakah Kroasia akan kalah? Susah ngalahinnya.

Lah terus…? Yah, kita begadang dan nikmati dengan gembira aja, dinihari nanti, Kamis (18/6) Pkl. 03:00 WIB, di Bola Gembira TVRI.

Yusuf Ibrahim

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *