Rupiah Melemah, BPR di Karanganyar Pangkas Suku Bunga Kredit dan Bebaskan Denda Nasabah

Foto : Sejumlah Direksi BPR/BPRS, dalam acara Milad BPR/BPRS yang digelar oleh Persatuan Bank Perekonomian Rakyat Indonesia (Perbarindo) PAC Karanganyar

Video : Heru W/Iwan Iswanda – Karanganyar

KARANGANYAR, kabarterkininews.co.id — Ketegangan geopolitik di Timur Tengah dan pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dinilai mulai memberi tekanan nyata terhadap ekonomi masyarakat. Kelompok yang paling rentan terdampak dari kondisi global ini adalah para pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).

Merespons situasi tersebut, kalangan Bank Perekonomian Rakyat (BPR) di Kabupaten Karanganyar bergerak cepat menyiapkan sejumlah langkah taktis. Mulai dari menurunkan suku bunga kredit hingga memberikan relaksasi pembayaran berupa pembebasan bunga dan denda bagi nasabah yang mengalami kesulitan.

Komitmen tersebut mengemuka dalam kegiatan Milad BPR/BPRS yang digelar oleh Persatuan Bank Perekonomian Rakyat Indonesia (Perbarindo) PAC Karanganyar di kawasan Car Free Day (CFD) Jalan Lawu, Minggu (24/5/2026).

Ketua Perbarindo PAC Karanganyar, Haryono, mengungkapkan bahwa kondisi ekonomi global yang belum stabil langsung berimbas pada naiknya harga bahan baku dan melemahnya daya beli masyarakat. Dampak tersebut kini sudah mulai dirasakan oleh para pedagang kecil serta pelaku usaha di pasar-pasar tradisional.

“Situasi sekarang berat. Timur Tengah memanas, rupiah melemah, ekonomi masyarakat bawah yang paling terasa dampaknya. Karena itu BPR harus hadir, bukan malah ikut memberatkan,” ujar Haryono saat ditemui di sela-sela kegiatan.

Solusi Alternatif Pengganti Rentenir

Haryono, yang juga menjabat sebagai Direktur Utama PT BPR Bank Daerah Karanganyar, menjelaskan bahwa momentum Milad BPR tahun ini difokuskan untuk memperkuat edukasi dan literasi keuangan. Menurutnya, masih banyak warga yang belum mengetahui bahwa BPR merupakan alternatif pembiayaan yang cepat, legal, dan terjangkau bagi UMKM.

Saat ini, Perbarindo PAC Karanganyar membawahi 12 BPR yang beroperasi di wilayah tersebut. Seluruh anggota didorong untuk memperluas akses layanan pembiayaan kepada masyarakat kecil di tengah perlambatan ekonomi.

“Kami ingin masyarakat tahu bahwa ada perbankan supermikro yang cepat, mudah, tidak ribet, dan murah. Inilah fungsi BPR hadir di tengah masyarakat,” tuturnya.

Ia menambahkan, salah satu persoalan klasik yang dihadapi pedagang kecil adalah ketergantungan pada pinjaman rentenir pasar akibat keterbatasan akses pembiayaan formal. Sebagai solusinya, BPR menghadirkan layanan yang jauh lebih fleksibel dibanding bank umum, termasuk kecepatan proses pencairan.

“Mungkin ada yang prosesnya hanya sehari. Itu sulit dilakukan bank umum, tapi BPR bisa hadir dengan pelayanan yang lebih sederhana dan cepat,” tambah Haryono.

Prinsip Keberpihakan: Untung Sewajarnya, yang Penting Sehat

Sebagai bentuk nyata dari kebijakan ini, PT BPR Bank Daerah Karanganyar telah memotong suku bunga kredit untuk beberapa segmen pinjaman, termasuk bagi Aparatur Sipil Negara (ASN) dan pelaku usaha tertentu.

Haryono mengakui kebijakan ini menurunkan proyeksi keuntungan perusahaan. Namun, ia menegaskan perbankan harus adaptif dan berpihak pada masyarakat di masa sulit. Mempertahankan bunga tinggi di tengah melemahnya ekonomi dinilai justru berisiko meningkatkan angka kredit bermasalah (Non-Performing Loan/NPL).

“Untung boleh, tapi jangan terlalu banyak. Yang penting masyarakat tetap bisa jalan usahanya dan bank juga tetap sehat. Kalau tetap pakai bunga normal atau tinggi, risikonya masyarakat berat. Kalau masyarakat berat, bank juga bisa ikut tutup,” tegasnya.

Selain pangkas bunga, kebijakan relaksasi ekstrem juga dibuka. Bagi nasabah yang benar-benar terdampak kesulitan ekonomi, mereka diberikan keringanan untuk hanya membayar pokok pinjaman saja.

“Kalau benar-benar kesulitan, khususnya warga Karanganyar, cukup bayar sisa pokoknya saja. Bunganya kami bebaskan, dendanya kami bebaskan,” kata Haryono.

Didukung Pemkab dan Dijamin LPS

Langkah sosial-ekonomi yang diambil BPR ini diklaim telah mendapatkan dukungan penuh dari Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Karanganyar sebagai bagian dari upaya menjaga daya tahan ekonomi daerah.

“Kami didukung pemerintah daerah untuk meringankan masyarakat. Karena tujuan akhirnya ekonomi Karanganyar tetap bergerak,” imbuhnya.

Di akhir penjelasannya, Haryono mengimbau agar masyarakat tidak perlu cemas untuk menyimpan dana atau bertransaksi di BPR. Ia menjamin seluruh operasional perbankan diawasi ketat oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan tabungan nasabah dijamin penuh oleh Lembaga Penjamin Simpanan (LPS).

Ke depan, Perbarindo PAC Karanganyar berkomitmen terus memperluas jaringan layanan guna memastikan persaingan antar-BPR menjadi energi positif dalam menghadirkan layanan yang lebih cepat, mudah, dan murah bagi masyarakat. (KTN/Red)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *