Klaten, KabarTerkiniNews.co.id – Majelis Pemberdayaan Masyarakat (MPM) Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah resmi meluncurkan gerakan Kick Off Rojolele Reborn. Melalui aksi tanam raya padi varietas Rojolele-104 di Desa Gempol, Karanganom, Klaten, Kamis (20/08).
Agenda tersebut menjadi langkah awal penguatan kedaulatan pangan berbasis komoditas lokal. Sekaligus menggerakkan ekosistem pemberdayaan petani melalui jaringan Jemaah Tani Muhammadiyah (Jatam). Penanaman perdana varietas Rojolele-104 ini menyasar target lahan seluas 5 hektar di Klaten.
Diantaranya tersebar di tiga wilayah sentra produksi yakni Desa Gempol, Kecamatan Karanganom seluas 8.000 meter persegi, Kecamatan Ceper seluas 5.500 meter persegi dan Kecamatan Prambanan seluas 3.000 meter persegi.
Ketua MPM PP Muhammadiyah M. Nurul Yamin menjelaskan, gerakan tersebut merupakan upaya penguatan kembali varietas padi asal Klaten. Varietas Rojolele hasil pemulian yang bekerja sama dengan BATAN telah diresmikan oleh Pemerintah Kabupaten Klaten pada 2013. Muhammadiyah pun mulai ambil bagian dalam pengembangannya sejak 2017.
” Hari ini kita hadir di kick off tanam raya padi sawah varietas Rojolele-104 sebagai langkah awal untuk pemberdayaan masyarakat di bidang pertanian. Khususnya pangan dan lebih khusus lagi padi,” Katanya.
Melalui program tersebut, MPM PP Muhammadiyah hendak membangun ekosistem pertanian dari hulu ke hilir. Mulai dari pembenihan, penanaman hingga tata kelola pengolahan dan distribusi pasar yang terhubung langsung dengan Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) serta masyarakat luas.
“Rojolele adalah varietas melegenda dan Klaten merupakan ikon produk beras tersebut. Kami ingin terus mengembangkan inovasi ini agar menjadi varietas unggulan yang digemari masyarakat,” ucapnya.
Melalui ekosistem tersebut, pihaknya hendak memastikan sejak awal ditanam, distribusi produk ke pasar dan konsumennya sudah disiapkan. Harapannya, kesejahteraan petani meningkat dan model pemberdayaan tersebut bisa direplikasi secara nasional.
Pada tahap awal dengan target penanaman serentak di lahan seluas 5 hektar, estimasi produktivitas diperkirakan mencapai enam hingga tujuh ton gabah per hektar atau sekira 30 sampai 35 ton gabah kering secara keseluruhan.
Jumlah tersebut diproyeksikan akan menghasilkan sekira 20 hingga 25 ton beras siap konsumsi yang memiliki cita rasa khas, pulen dan bernilai ekonomis tinggi.
Dukungan penuh juga disampaikan oleh Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Klaten melalui Kepala Badan Perencanaan Pembangunan, Riset dan Inovasi Daerah (Bapperida) Kabupaten Klaten Pandu Wirabangsa.
“Tentu sangat senang karena Rojolele ini adalah beras identitas Klaten yang punya kelas tersendiri di masyarakat,” terang Pandu. Ia menyambut positif kolaborasi aktif MPM PP Muhammadiyah dan Jatam dalam menjaga identitas pertanian daerah.
“Kehadiran Jatam melalui MPM PP Muhammadiyah memberikan dukungan luar biasa dalam menyemai varietas ini di kawasan kantong produksi. Seperti Karanganom, Polanharjo, Delanggu, Juwiring hingga Wonosari,” Tuturnya.
Prabowo Aji







