Piodalan 2026 Digelar di Pura Pasekan Agung Karanganyar

KARANGANYAR – Rangkaian Piodalan 2026 di Pura Pasekan Agung, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah, kembali berlangsung. Kegiatan ini diikuti langsung Bupati Buleleng Bali, I Nyoman Sutjidra, Sabtu (29/8/2026).

Salah satu rangkaian kegiatan yang digelar yakni prosesi matatah atau potong gigi yang diikuti puluhan peserta.
Sekretaris Panitia Piodalan 2026, Mangku Yoss Adi Saputra, mengatakan prosesi metatah menjadi salah satu bagian penting dalam rangkaian kegiatan keagamaan tersebut.
“Metatah atau potong gigi memiliki filosofi untuk melepaskan sadripu, yaitu enam jenis noda yang ada pada diri manusia ketika beranjak dewasa,” kata Yoss.
Menurutnya, prosesi tersebut diharapkan menjadi momentum bagi peserta untuk meninggalkan sifat-sifat negatif dalam diri dan memasuki fase kehidupan yang lebih dewasa.
Dalam rangkaian metatah juga terdapat prosesi menekde atau mendengendengan yang secara harfiah dimaknai sebagai upacara akil balik, yakni proses peralihan seseorang menuju kedewasaan.
Pada pelaksanaan tahun ini, prosesi matatah diikuti 38 peserta. Jumlah tersebut berkurang dari rencana awal yang mencapai lebih dari 50 peserta.
Yoss menjelaskan, sejumlah calon peserta tidak dapat mengikuti prosesi karena beberapa persyaratan tidak terpenuhi. Di antaranya peserta perempuan yang sedang mengalami menstruasi serta peserta yang tidak memperoleh izin dari sekolah.
“Kami tetap mengutamakan kewajiban utama anak-anak. Kalau memang tidak mendapatkan izin sekolah, kami menyarankan untuk tidak datang,”ujarnya.
Selain prosesi metatah, pada hari yang sama juga berlangsung penganyaran kedua yang diwakili Kabupaten Buleleng, Singaraja, Bali. Kegiatan tersebut berlangsung secara paralel dengan prosesi potong gigi.
Rombongan umat Hindu dari Bali Utara juga mulai berdatangan ke Pura Pasekan Agung. Sebagian besar berasal dari wilayah Singaraja, Buleleng, dengan sekitar 10 bus dalam satu rombongan. Selain itu terdapat sejumlah rombongan kecil dengan total sekitar 110 orang lebih.
Karena banyaknya umat yang hadir, panitia mengatur pelaksanaan persembahyangan secara bergelombang agar seluruh rombongan tetap dapat menjalankan ibadah dengan tertib.
“Memberikan kesempatan kepada saudara-saudara yang lain untuk bisa melakukan ibadah pada fase upacara puncak,”jelasnya.
Ia mengatakan, pelaksanaan penganyaran juga menjadi bentuk keterbukaan panitia kepada umat dari berbagai daerah. Sebab, pada saat purnama penuh di Bali terdapat banyak kegiatan keagamaan lain yang waktunya berbarengan.
“Kami tidak menutup pintu. Kami membuka kesempatan kepada mereka untuk bisa hadir pada hari setelah purnama penuh tersebut,” katanya.
Bupati Buleleng Hadiri Persembahyangan
Sementara itu, Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra turut hadir dalam rangkaian kegiatan di Pura Pasekan Agung tersebut menuturkan, dia datang bersama para pemimpin agama dan warga Pasek dari Kabupaten Buleleng.
Sutjidra mengatakan, selain sebagai Bupati Buleleng, dirinya juga merupakan bagian dari warga Margo Putri Salsabisi atau keluarga Pasek.
“Kami pada hari ini hadir untuk persembahyangan bersama di Pura Petilasan Ki Ageng Kemacetan yang ada di daerah Karanganyar ini. Ini rutin setiap tahun kami dari seluruh warga Pasemotan dan Pasek Sebali melaksanakan kegiatan upacara di sini,”tuturnya.
Menurut Sutjidra, pada kesempatan tersebut rombongan dari Buleleng mendapatkan tugas untuk menghadirkan para pemimpin agama dari keluarga Pasek untuk berkumpul dan mengikuti persembahyangan di pura tersebut.
Dalam kunjungan itu, Sutjidra juga menyampaikan harapan terkait akses menuju lokasi pura. Ia berharap jalan masuk menuju kawasan pura dapat diperlebar sehingga lebih mudah dilalui umat yang datang dari berbagai daerah.
“Harapan kami, khususnya jalan masuknya agar bisa dilebarkan,”harapnya.
Ia menilai hubungan antara warga Bali dan masyarakat Karanganyar selama ini telah terjalin dengan baik. Karena itu, kegiatan keagamaan tersebut diharapkan semakin mempererat silaturahmi kedua daerah.
“Semoga ke depan dari silaturahmi dengan warga kami dari Bali, kemudian dari Karanganyar ini bisa menjalin hubungan yang tetap harmonis,” katanya.
Sutjidra juga menyampaikan pesan moral dari pelaksanaan persembahyangan di Pura Petilasan Ki Ageng Pamacekan. Menurutnya, kegiatan tersebut menjadi momentum untuk memohon restu dan tuntunan dari para leluhur.
“Ki Ageng Pamacekan bisa memberikan restu kepada kita, memberikan sinar sucinya, agar kita sebagai warganya tetap diberikan jalan ke arah yang lebih baik lagi, ke arah jalan yang benar,”pungkasnya.(Iwan).

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *