Boyolali, KabarTerkiniNews.co.id – Semangat mencintai pangan lokal dan menghidupkan kembali warisan kuliner Nusantara mewarnai pelaksanaan Festival Mustikarasa Bung Karno 2026 yang digelar di Dukuh Dungus, Desa Seboto, Kecamatan Gladaksari, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah, Minggu (14/6/2026).
Mengusung tema “Perempuan, Pangan Lokal, dan Ketahanan Keluarga”, kegiatan ini menjadi ruang kebudayaan yang mengajak masyarakat kembali mengenal kekayaan pangan Indonesia sekaligus memperkuat ketahanan keluarga melalui pemanfaatan bahan pangan lokal.
Festival yang berlangsung di kawasan lereng Gunung Merbabu tersebut diikuti belasan peserta dari berbagai kalangan. Menariknya, peserta tidak hanya berasal dari kalangan ibu rumah tangga, kader PKK, maupun tokoh perempuan desa, tetapi juga diikuti sejumlah generasi muda atau Gen Z yang ikut berkreasi mengolah bahan pangan tradisional menjadi sajian yang lebih menarik dan relevan dengan perkembangan zaman.
Dalam lomba kreasi kuliner ini, seluruh peserta ditantang menciptakan makanan dan minuman berbahan dasar singkong. Hasilnya, lahir beragam inovasi kuliner mulai dari kudapan tradisional hingga makanan modern yang menunjukkan bahwa singkong memiliki potensi besar sebagai bahan pangan alternatif.
Salah satu peserta, Angelica Reza Zaifana, menghadirkan dua menu sekaligus, yakni ombus-ombus khas Batak dan cassava choco truffle. Menariknya, makanan tradisional asal Sumatera Utara tersebut dimodifikasi dengan menggunakan singkong sebagai bahan utama.
Menurut Angelica, ombus-ombus biasanya dibuat dari tepung beras, kelapa parut, dan gula merah. Namun dalam lomba ini ia mencoba melakukan substitusi bahan dengan singkong tanpa menghilangkan cita rasa khasnya.
Ia mengaku sengaja memilih kuliner dari luar Jawa sebagai upaya mengenalkan kekayaan kuliner Nusantara kepada masyarakat yang lebih luas.
“Dengan acara seperti ini kita jadi tahu kalau singkong bisa dibuat menjadi banyak macam menu, tidak hanya dikukus atau dimakan dengan gula saja,” ujarnya.
Peserta lainnya, Ratna Widuri, menyajikan combro dengan isian tempe serta pai singkong yang dipadukan dengan fla menyerupai bubur sumsum dan sagu. Menurutnya, mengolah singkong menjadi makanan modern tidak sulit selama ada kreativitas dalam mengembangkan resep.
“Yang penting bagaimana kita kreatif mengolah singkong menjadi berbagai varian makanan,” katanya.
Kehadiran para peserta muda menjadi warna tersendiri dalam festival ini. Mereka tidak hanya berkompetisi menciptakan sajian berbahan lokal, tetapi juga belajar mengenal berbagai kuliner tradisional Nusantara yang selama ini mulai jarang dikenal generasi muda. Beberapa peserta bahkan mengadaptasi makanan khas dari luar Pulau Jawa dan mengaplikasikannya menggunakan bahan dasar singkong.
Fenomena tersebut menunjukkan bahwa Festival Mustikarasa tidak sekadar menjadi lomba memasak, tetapi juga menjadi sarana literasi kuliner Nusantara bagi generasi muda. Melalui kegiatan ini, pengetahuan tentang ragam makanan tradisional Indonesia dapat diwariskan sekaligus dikembangkan menjadi produk yang lebih inovatif.
Dalam perlombaan tersebut, dewan juri menilai sejumlah aspek, mulai dari kreativitas, orisinalitas, cita rasa, hingga estetika penyajian.
Selain lomba kuliner, panitia juga menggelar sesi sarasehan yang membahas warisan rasa Nusantara dan gagasan Bung Karno mengenai pentingnya kemandirian pangan. Diskusi tersebut menjadi ruang untuk menyebarluaskan semangat pangan lokal, ketahanan keluarga, serta nilai-nilai kebudayaan yang diangkat dalam Festival Mustikarasa Bung Karno 2026 kepada masyarakat luas.
Ketua Pelaksana, Dwi Adi Nugroho, mengatakan kegiatan tersebut berangkat dari keprihatinan terhadap masih tingginya ketergantungan masyarakat pada sejumlah bahan pangan impor seperti gandum dan kedelai. Padahal Indonesia memiliki kekayaan sumber pangan lokal yang melimpah dan belum dimanfaatkan secara optimal.
Menurutnya, singkong merupakan salah satu komoditas lokal yang memiliki potensi besar sebagai bagian dari ketahanan pangan nasional.
“Tujuan utama kegiatan ini bukan sekadar lomba, tetapi bagaimana menyosialisasikan kepada masyarakat bahwa bahan pangan yang ada di sekitar kita memiliki potensi luar biasa. Ketika diberi ruang, ternyata lahir inovasi-inovasi yang luar biasa dan memiliki nilai ekonomi,” ujarnya.
Ia menambahkan, sejumlah produk yang ditampilkan peserta bahkan dinilai layak dipasarkan lebih luas, termasuk disajikan di kafe maupun rumah makan.
Sementara itu, Ketua DPC PDI Perjuangan Boyolali, Susetya Kusuma Dwi Hartanta, mengatakan kegiatan tersebut merupakan bentuk edukasi kepada masyarakat bahwa sumber pangan pokok tidak hanya bergantung pada nasi.
Menurutnya, singkong yang selama ini dianggap sebagai pangan sederhana dapat memiliki nilai ekonomi lebih tinggi apabila diolah secara kreatif dan inovatif.
“Harapannya semangat ketahanan pangan ini terus kita jaga dan kita sosialisasikan kepada masyarakat luas,” katanya.
Festival ini juga mengangkat kembali nilai-nilai yang terkandung dalam Mustikarasa, buku masakan terbesar di Indonesia yang lahir dari gagasan Bung Karno. Buku tersebut menghimpun ribuan resep dan pengetahuan kuliner dari berbagai daerah di Nusantara sebagai bagian dari semangat membangun kemandirian bangsa melalui pangan.
Bagi Bung Karno, pangan bukan sekadar urusan perut. Pangan merupakan bagian dari identitas budaya sekaligus fondasi kedaulatan bangsa. Ia meyakini bahwa bangsa yang kuat adalah bangsa yang mampu memenuhi kebutuhan pangannya sendiri dengan memanfaatkan kekayaan alam yang dimiliki.
Melalui Festival Mustikarasa Bung Karno 2026, semangat tersebut kembali dihidupkan. Dari singkong yang tumbuh di pekarangan hingga sajian kreatif di atas meja lomba, masyarakat diajak untuk melihat bahwa ketahanan pangan dapat dimulai dari bahan-bahan lokal yang ada di sekitar mereka.
Sebab, pangan bukan sekadar soal makan. Pangan adalah kebudayaan, kemandirian, dan masa depan bangsa.
Taufik Irvani








